Rabu, 01 Juli 2015

Missing someone is just part of moving on....

Jatuh cinta pada pandang pertama? Awalnya, aku tidak percaya akan hal yang satu ini. Apakah jatuh cinta sebegitu mudahnya? Hanya dengan satu pandangan pertama? Ah tidak mungkin..

Suatu saat, aku pernah bertemu seseorang yang membuat tubuh ku dibanjiri biokimia tubuh seperti estrogen, dopamine, dan norepinephrine yang bercampur aduk sehingga membuat ku merasakan sesuatu yang bergejolak dalam hati.

Aku baru saja melihatnya detik itu. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Tahu namanya pun tidak. tetapi mengapa ia membuat ku merasakan hal ini? Entah… aku juga tidak mengerti.

Ternyata benar , cinta turun dari mata, berputar-putar di otak dan seluruh sistem tubuh, lalu barulah terasa di hati.

Mungkin ini kah yang dinamakan orang-orang cinta pada pandang pertama?
 

Takdir ? Apakah takdir itu ada? Bukan kah semua yang terjadi dalam hidup kita adalah hasil dari setiap keputusan yang kita ambil?

Tapi sepertinya.. kali ini aku benar2 merasakan hal yang terjadi ini adalah apa yang dinamakan orang2 sebagai 'takdir'

Orang itu.. ya benar , orang yang membuat hormon2 tubuhku bergejolak.. aku bertemu dengannya , lagi..

Aku bertemu dengannya di sebuah pertandingan, dari sekian banyak peserta, mata ku tertuju pada satu orang itu.
 

Pertandingan pun dimulai. nama masing2 anggota disebutkan, termasuk orang itu. saat namanya disebut, aku langsung mengingatnya di otakku, bahkan bukan hanya otak. Di alam bawah sadar ku juga

Saat pertandingan selesai, ia tersenyum padaku dan memberi ucapan selamat. Tentu hal itu membuat jantungku berdebar lebih cepat dari sebelumnya.

Hari itu lewat begitu saja. Karena penasaran dengan orang itu, aku mencari info tentang dirinya. Media sosial di jaman yang canggih ini sangat membantuku menemukan informasi dirinya. Singkat cerita, kami pun saling berbicara melalui sosial media. Tanpaa sadar, ia pun mengakui bahwa ia juga memperhatikan ku sejak pertandingan itu.

Hari demi hari kami lalui.. kami pun sering  jalan bersama. Ia pernah memberiku sebuah hadiah simple, katanya "hadiah perkenalan". Kami sering berbicara hal yang tidak penting dan lainnya. Kata orang, semakin sering kamu bicara hal tidak penting dengan seseorang, orang itu semakin penting untukmu. Mungkin benar juga.




Selang waktu kurang lebih 2 minggu, kami bertemu lagi di suatu 'malfest' , malam festival. Kita semua tahu jika sedang berada di festival dan ingin berbicara dengan seseorang, tentu harus berbicara dengan keras kan? Malam itu kami tidak banyak berbicara, terlalu malas mengeluarkan energi untuk berbicara kencang-kencang. kami menikmati acara yang ada. Tiba-tiba, secara tidak langsung ia menyatakan perasaannya padaku. Tanpa di sangka, kami memiliki perasaan yang sama. Aku pun berterus terang bahwa aku punya perasaan yang sama dengannya. Tidak penting bagaimana ceritanya, kami pun 'mengikat' perasaan satu sama lain malam itu dengan hubungan yang orang2 sebut sebagai pacaran.

Sekarang aku mengerti dengan ucapan “pacar pertama belum tentu cinta pertama”, karena itulah yang aku rasakan saat itu. Jujur saja, aku memang sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan orang lain, tapi sepertinya baru kali ini aku merasakan yang disebut-sebut dengan ‘first love’

Pacaran kami berjalan seperti apa yang orang lain jalankan pada umumnya. Sesekali ia memberi ku surprise, tetapi bukan itu yang membuat ku tambah tergila-gila padanya, justru hal-hal kecil yang ia lakukan tiap hari lah yang membuat ku 'jatuh' semakin dalam.

Aku adalah type orang yang moody, tetapi ia selalu menanggapi itu dengan kepala dingin. Tidak membalas 'moody' ku dengan ambekannya. Ia selalu berusaha membuat ku tertawa lagi.

Ah iya.. aku salah satu pengemar korean pop. Beberapa kali aku menonton konser girlband korea yang tampil di kota ku. Ia pernah mengantar dan menunggu ku dari luar tempat konser , sedangkan aku asik di dalam..

Dia adalah orang yang peka. Aku sering menyebutkan apa yang aku inginkan kepadanya. Maksud ku tidak serius, terkadang hanya asal sebut. Tetapi ternyata ia memperhatikan semua ucapanku. Saat ulang tahun ku, ia memberikan ku apa yang aku mau..

9 bulan hubungan kami terasa begitu manis. Hampir tidak nampak masalah yang serius. Hanya saja terkadang mood ku yang sering naik turun membuat kami bertengkar kecil.

Akhirnya, pada suatu hari, kami bertengkar hanya karena sebuah game. Benar-benar masalah sepele. Kata putus pun terlontar dari mulut salah satu dari kami. Karena saat itu suasana sedang tidak baik, kami pun putus. Padahal kata orang jangan mengambil keputusan saat emosi. Tetapi, baiklah… Nasi sudah menjadi bubur

2 hari aku lewati tanpa bersamanya. Aku baru sadar bahwa aku sangat kehilangan dirinya. Aku mengambil ponsel ku dan mengajaknya bicara. Dari berbicara dengan halus, sampai aku memohon padanya.. Menurut ku hal yang kemarin tidak pantas dijadikan alasan untuk hubungan yang begitu indah ini putus begitu saja.

Ia tidak memberikan ku alasan mengapa ia tidak bisa menerima ku lagi.. Sampai pada suatu hari, ia pun berkata bahwa ia tidak mencintai ku lagi. Perasaannya hilang begitu saja. Aku terkejut, tapi tetap. Ini bukan alasan yang masuk akal untukku



Aku terus memohon padanya. Tapi ia terus menolakku secara langsung. Dari sini aku belajar, aku tidak boleh berfikir, "aku sayang dia, aku baik sama dia, aku jaga perasaan dia, tentu dia akan melakukan hal yang sama untukku". Ternyata itu salah. Tidak perduli seberapa kita mencintai seseorang, jika orang itu memang mau pergi dari hidup kita, ia akan pergi begitu saja tanpa memikirkan perasaan kita.

Orang bilang jangan percaya dengan kata-kata, tapi lihat lah perbuatannya... Yap aku sudah mengikuti saran orang disekitarku. Tetapi siapa yang tahu? Selama ini ia bersikap begitu baik padaku.. tidak terlihat gerak geriknya bahwa ia akan menyakitiku.. Tetapi tiba-tiba . . . Ah sudahlah. Ternyata belum tentu perbuatan mewakilkan semuanya juga..

Hari demi hari aku lewati tanpanya. Aku mulai mempunyai gaya hidup dan lingkungan baru. Aku sadar aku mempunyai teman-teman yang 'asik'.. Walaupun mereka tidak selalu benar, tapi setidaknya mereka ada untukku. Dari mereka aku mengenal 'dunia' yang selama ini tidak aku kenal.
 

Apakah sekarang aku sudah berhasil melupakannya? Belum, sudah hampir 11 bulan, dan terkadang dirinya masih suka berjalan-jalan di dalam otak ku..





Aku tidak dapat menahan perasaan rinduku. Aku mengambil ponsel dan menyapanya via sosial media. Kami bercerita panjang lebar, tidak terasa canggung. Pembicaraan kami sampai kepada fase 'flashback' kami membicarakan hubungan kami yang sudah-sudah. Akhirnya ia jujur, ia tidak bisa menerima ku kembali saat itu adalah karena sifat ku yang 'moody'. Awalnya ia berfikir bahwa ia bisa mengubahku. Tetapi menurutnya, aku tidak bisa berubah karena memang sudah sifat ku seperti itu. Karena ia merasa tidak bisa menerima ku apa adanya dan tidak mau memaksa ku untuk berubah, ia memilih untuk memutuskan hubungan kami waktu itu.

Ia berkata terus terang, ia juga menangis saat aku memohon kepadanya. Tapi ia tidak bisa lagi.. ia tidak tahan dengan aku yang moody dan juga pencemburu kelas kakap. Ya memang aku sering cemburu dengan hal-hal sepele.

Dari kejadian ini aku belajar banyak hal. Tidak selamanya apa yang kita anggap baik itu benar-benar baik.. tidak selamanya kita bisa memaksa keadaan sekitar untuk jadi seperti apa yang kita mau..
 

Dan untuk kalian yang masih menjalin hubungan, jaga pasangan kalian baik-baik. Bukan dengan cara 'ngambek' atau jealous kepada mereka. Cinta itu seperti pasir, semakin kalian genggam kencang, hal itu semakin hilang.



8 komentar:

  1. So sweet story.. full of memories inside it.. keep writing on cant be waiting your next stories

    BalasHapus
  2. It's getting better from your first post...
    Semangat semangat, frekuensi postnya ditambah gitu jadi 1 bulan 2x

    BalasHapus
    Balasan
    1. yey makasi om.. amin, aku nulis cuma kalo lagi dapet feelnya.. kalo ngga, jadi stuck haha

      Hapus
  3. Whoa.. got the feeling..

    Keep writing chell..

    Next please :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hueheheh glad to hear that om xD yessss i will ^^

      Hapus
  4. Tulisan yang ini lebih kayak monolog. Bahasanya bagus. Seperti berbagi pengalaman aja, tapi gak berusaha sok nasihatin. Tetep semangat ya nulisnya Chell.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aku juga bingung kenapa bisa nulis se-'puitis' ini haha

      Yaappp, makasih senpai :b makasih juga udah rajin mampir dan comment di setiap postingan aku

      Hapus